Pertemuan
Rabu, 31 Juli 2019
Pun ku menemukan kembali sosok yg telah senyap sekitar setahun yang lalu. Ma'ruf, itulah gelar yg telah diberikan orang tuanya kepadanya, do'a sekaligus harapan yang bersarang d gerai hati ortunya. Ku mengira, bahwa kukan lenyap dalam ingatan sosoknya. Senyum hangatnya itu, tiba" menyapaku dengan lambaian tangan yang seakan-akan mengenaliku. Ku tengok kembali ruang sekitarku, untuk memastikan bahwa akulah objek yang sedari tadi ia acu. Rasanya, ingin sekali ku mendatangi tempat yang ia tempati. Namun, tak enak sekali bila seluruh santerio melihatku berlagak seperti itu. Ku berusaha menerbitkan rasa jujur dalam diri ini, bahwa memang ku telah melihatnya berdiri tegak disana sekitar dua jam yang lalu. Sosoknya itu meluapkan kesadaran dalam jiwa, bahwa belajar tak perlu menunggu berada di dalam kelas dan menghindar dari kesia-siaanpun tergambar dari dirinya. Sungguh, kukira ia benar-benar melupakan diriku. Tapi, sudah dua kali ia menyapaku, walau hanya dari kejauhan ku tetap bersyukur ia masih mengingatku. Berawal dari suatu ajang perlombaan, yaitu Musabaqah Qiraatil Kutub yang di selenggarakan di pondok pesantrennya ( Al-Khairat Tanjung Selor). Alhamdulillah, kami lolos ke tingkat Nasional. Disitulah awal kali kami bertegur sapa. Ku bersyukur bahwa ku mengenalnya tepat sekitar 5 jam sebelum kami berpisah. Jikalau aku mengenalnya dari awal, entah bagaimana nasib iman di dada.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pun ku menemukan kembali sosok yg telah senyap sekitar setahun yang lalu. Ma'ruf, itulah gelar yg telah diberikan orang tuanya kepadanya...
-
Pun ku menemukan kembali sosok yg telah senyap sekitar setahun yang lalu. Ma'ruf, itulah gelar yg telah diberikan orang tuanya kepadanya...